Mobil Gagal Uji Emisi? Cek 4 Komponen Penting Ini
Mobil dibawa ke lokasi pengujian. Suara mesin halus. Tarikan gas terasa normal saat dipakai harian. Begitu lembar hasil keluar, statusnya justru tidak lulus.
Angka Karbon Monoksida (CO) atau Hidrokarbon (HC) melonjak melewati ambang batas regulasi pemerintah.
Situasi ini kerap membingungkan. Banyak pemilik menduga mesin mobil mereka rusak parah atau jebol. Padahal, kegagalan uji gas buang paling sering bersumber dari pembakaran yang tidak tuntas di dalam silinder.
Bensin yang gagal terbakar akhirnya terbuang ke pipa pembuangan. Masalahnya sering kali sepele, seperti suku cadang habis pakai yang kotor atau aus karena terlambat diservis.
Mengapa Standar Emisi Gas Buang Sulit Terpenuhi
Perbandingan udara dan bahan bakar di dalam silinder harus tepat agar bensin terbakar habis. Saat campurannya tidak seimbang, bensin mentah lolos langsung menuju knalpot.
Senyawa bensin yang gagal terbakar tersebut terbaca sebagai hidrokarbon tinggi oleh sensor alat uji. Sebaliknya, pasokan oksigen yang terlalu sedikit membuat pembakaran macet dan memicu lonjakan gas karbon monoksida.
Masalah ini berimbas langsung pada performa kendaraan. Emisi gas buang yang buruk menandakan ruang bakar bekerja tidak efisien.
Tenaga mesin loyo. Bensin terasa jauh lebih boros. Mengetahui penyebab gagal uji emisi sejak awal membantu Anda menemukan akar masalah secara tepat, tanpa perlu menebak-nebak kondisi mesin.
Langkah Pemeriksaan Komponen Penentu Kelulusan Emisi
Kadar gas buang yang buruk selalu bermula dari suku cadang pendukung pembakaran yang bekerja di luar setelan semestinya. Jangan panik atau terburu-buru membeli catalytic converter baru yang mahal. Cek dulu empat bagian berikut.
1. Bersihkan atau Ganti Filter Udara yang Tersumbat
Udara luar yang dihisap mesin membawa debu dan kotoran jalanan. Saringan udara bertugas menahan kotoran tersebut agar tidak masuk ke ruang bakar.
Seiring pemakaian kendaraan, pori-pori saringan tertutup jelaga tebal sehingga pasokan oksigen bersih terhambat drastis.
Kekurangan udara membuat campuran bahan bakar menjadi terlalu basah. Karbon monoksida langsung meningkat tajam saat diukur lewat pipa knalpot. Buka penutup rumah filter di ruang mesin, lalu periksa ketebalan kotorannya.
Ganti filter bila serat kertas penyaring sudah menghitam pekat. Hindari kebiasaan menyemprot filter lama memakai angin kompresor, karena pori-pori mikronya biasanya sudah rusak dan tak lagi mampu menyaring kotoran dengan baik.
2. Periksa Kondisi dan Celah Busi
Pemantik api di ruang bakar ini menentukan tuntasnya pembakaran. Jika letupan apinya lemah, bensin yang disemprotkan injektor tidak terbakar habis dalam hitungan milidetik.
Sisa bensin mentah terdorong keluar menuju manifold knalpot, lalu mendongkrak angka hidrokarbon pada layar alat uji emisi.
Lepaskan busi dari kepala silinder mobil Anda. Amati elektroda pada ujungnya. Bagian yang aus, berkerak karbon hitam, atau memiliki celah renggang membuat percikan api mengecil.
Kondisi jalan macet stop and go di perkotaan sering mempercepat penumpukan kerak pada elektroda.
Ganti busi yang sudah melewati masa pakainya agar proses pembakaran di dalam silinder kembali bersih.
3. Bersihkan Kerak pada Sensor Oksigen
Perangkat ini terpasang langsung pada leher knalpot untuk membaca sisa oksigen hasil pembakaran mesin.
Data dari sensor dikirimkan ke komputer mesin (ECU) untuk menakar volume bensin yang disemprotkan injektor. Komponen kecil ini bekerja terus-menerus di lingkungan pipa knalpot yang bersuhu tinggi dan penuh jelaga.
Bila ujung sensor tertutup endapan karbon sisa gas buang, pembacaannya menjadi kacau. Komputer mesin salah menerima data, lalu menyemprotkan bensin secara berlebihan ke dalam silinder.
Sensor oksigen yang kotor merupakan salah satu penyebab gagal uji emisi yang sering luput diperiksa pemilik kendaraan. Serahkan pelepasan dan pembersihan sensor ini kepada mekanik bengkel supaya jelaga terangkat tanpa merusak bagian kelistrikannya.
4. Rawat Saluran dan Injektor Bahan Bakar
Nosel ini menyemprotkan bensin bertekanan tinggi menjadi kabut partikel mikro yang halus. Ketika lubang nosel tersumbat endapan pernis atau sulfur dari bahan bakar, bensin keluar berupa tetesan cairan kasar. Tetesan bensin cair sangat sulit terbakar di dalam silinder.
Akibatnya, pembakaran berlangsung tidak rata antar-silinder mesin. Getaran mesin mobil terasa kasar pada putaran stasioner, lalu kadar hidrokarbon melonjak drastis saat pipa knalpot dicolok probe uji emisi.
Lakukan servis pembersihan saluran bahan bakar dan kalibrasi injektor secara berkala agar pola semprotan kabut bensin kembali normal.
Kapan Mobil Anda Perlu Melakukan Uji Emisi Ulang?
Jangan langsung tancap gas kembali ke antrean uji emisi begitu komponen selesai diperbaiki. Mesin butuh waktu untuk membakar sisa jelaga yang masih tertinggal di pipa knalpot. Bawa kendaraan ke lokasi pengujian ulang jika beberapa tanda berikut sudah tampak:
- Mobil telah dikendarai menempuh jarak sekitar lima belas hingga dua puluh kilometer agar komputer mesin selesai menyesuaikan data pembakaran baru.
- Bau bensin mentah yang menyengat dari knalpot saat mesin idle sudah hilang sepenuhnya.
- Putaran mesin stabil pada rpm idle dan tidak lagi bergetar saat penyejuk udara kabin dinyalakan.
- Lampu indikator mesin pada panel instrumen dasbor menyala normal saat kontak on dan langsung padam saat mesin hidup.
Jangan biarkan mobil Suzuki Anda terkendala aturan emisi atau menurun performanya saat dipakai beraktivitas.
Jadwalkan servis rutin dan pemeriksaan sistem gas buang kendaraan Anda di bengkel resmi Suzuki Sumberbaru melalui https://www.suzukisumberbaru.co.id agar mobil kembali bersih, bertenaga, dan lulus uji emisi dengan aman.